banner 728x90

Kisah Petani Lembah Matindok, Memupuk Harapan dari Limbah Gas

BIOFERDOM - Sekolah Lapang Pertamina EP DMF di Desa Kayoa Kecamatan Batui, Sukses Menelorkan Inovasi Pupuk Organik Hasil Olahan Produk Sampingan (Limbah) Dari Proses Pemurnian Gas Bumi. (Foto Mulyadi T Bua)

Luwuk, Banggaiplus.com — Di Lembah Matindok, angin pagi tak hanya membawa sejuk. Ia menyapu hamparan hijau ribuan batang tanaman jagung yang berdiri tegak, seolah mengangkat wajah menyambut cahaya matahari yang perlahan naik menembus kabut tipis.

Di Desa Kayoa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, pemandangan ini bukan sekadar pemandangan biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa apa yang dulu dianggap “sampah”, kini tumbuh menjadi harapan yang tak lagi bisa dipatahkan.

Berpuluh-puluh tahun lamanya, tanah di lembah ini dirawat dengan keringat dan doa. Namun hasil tak pernah sejalan dengan kerja keras. Pupuk kimia harganya melambung tak terkejar. Musim panen datang, namun tak membawa kelegaan. Lahan satu hektar hanya memberi 2 hingga 3 ton jagung kering. Keuntungan yang didapat, tak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup setahun keluarga. Banyak petani mulai putus asa. Sebagian berpikir meninggalkan ladang yang tak lagi “menjawab”.

Namun takdir ternyata menyimpan cerita lain. Tepat di kawasan yang sama, tempat corong pemurnian gas PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) berdiri bagian dari Zona 13 Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina di sinilah kisah perubahan perlahan terjalin.

Selama ini, produk sampingan dari proses pemurnian gas bumi yang dikenal sebagai biosulfur slurry kerap dipandang sekadar limbah. Sesuatu yang diabaikan, dijauhkan, dan dilupakan. Namun tim Corporate Social Responsibility (CSR)
Pertamina EP DMF memandang berbeda. Di balik rupa yang tak menarik itu, mereka melihat potensi yang tak terlihat mata biasa. Melalui pengkajian mendalam, uji coba yang tak kenal lelah, lahirlah sebuah inovasi yang mengubah pandangan, Bioferdom pupuk organik yang diolah dari apa yang dulu terabaikan, kini dikembalikan ke tanah sebagai sumber kehidupan.

Melalui program unggulan Sekolah Lapang, bagian dari tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat, Pertamina EP DMF tak sekadar membagikan pupuk. Mereka membuka pintu ilmu, mendampingi petani langkah demi langkah, dari cara menabur benih, mengatur jarak tanam, hingga merawat pucuk daun hingga siap dipanen. Bukan memberi ikan, melainkan mengajarkan cara memancing, bahkan membuat kailnya sendiri.

Beni Irawan, lelaki paruh baya Ketua Kelompok Tani Mosaangu, tak mampu menahan getaran di suaranya saat bercerita di sela kunjungan media, Jumat (2/10/2026).

Kerutan di wajahnya yang dulu terukir berat oleh kekhawatiran, kini berganti senyum yang tulus. Senyum yang lahir dari kepastian masa depan.

“Dulu, setiap musim tanam, kami bertaruh dengan nasib. Uang beli pupuk yang dipinjam, berharap panen bisa menutup utang. Seringkali tak cukup,” ucapnya, matanya menatap hamparan ladang yang kini hijau membentang.

Sekarang?. Setelah mereka mendapat pendampingan, diajarkan cara budidaya yang benar, dan diberikan pupuk Bioferdom. Hasilnya, Satu hektar yang dulu hanya memberi 2–3 ton, kini melonjak hingga 6 ton. Keuntungan yang dulu berkisar Rp9 juta, kini mencapai Rp25 juta. Biaya produksi turun 40 persen. Tanah kembali bernapas, dan petani pun bernapas lega.

Perubahan itu bukan keajaiban sesaat. Ia lahir dari kesabaran, ketekunan, dan kemitraan yang tulus. Sebanyak 26 petani dengan luasan lahan 33 hektar kini merasakan dampaknya. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, namun menjadi pelita bagi warga lain. Mereka mengajarkan yang belum paham. Harapan menular dari ladang ke ladang, dari rumah ke rumah.

Muhammad Syair, Senior Officer Relations Pertamina EP DMF, menyatakan bahwa inovasi ini lahir dari kesadaran. Kemajuan tak boleh meninggalkan siapa pun di belakang.

“Pupuk kimia harganya terus naik, dan ketergantungan itu perlahan mencekik petani. Kami ingin memutus rantai itu. Bioferdom hadir agar petani mandiri mampu mengolah, memanfaatkan, dan mengembangkan kekayaan dari lingkungannya sendiri. Limbah yang diabaikan kini menjadi sumber kehidupan,” ungkapnya.

Jika pupuk komersial mencapai Rp300 ribu per karung, pupuk berbasis sulfur hasil pengembangan ini jauh lebih ringan di kantong. Tim tak berhenti pada penyediaan bahan saja. Mereka menyusun panduan menanam, mengatur jarak antar tanaman, menjaga pola perawatan, semua disusun agar ilmu ini tak hilang, tetapi tumbuh dan berkembang sendiri.

Fuad Rafif Prasetyo, Community Development Officer (CDO) PEP DMF, menambahkan bahwa Bioferdom bukan sekadar pupuk. Ia adalah jembatan.

“Ini tentang mengubah pola pikir, ternyata alam memberi segalanya, asal kita pandai merawatnya. Melalui Sekolah Lapang, kami membangun kemandirian, bukan ketergantungan. Petani belajar memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya, melihat limbah bukan sebagai akhir, melainkan awal dari sesuatu yang baru,” tutur Fuad.

Kisah ini pun sampai ke telinga Pemerintah Kabupaten Banggai. Bupati H. Amirudin Tamoreka tak menyembunyikan kekagumannya. Baginya, langkah yang diambil Pertamina EP DMF adalah teladan bahwa industri tak hanya datang untuk mengambil, tetapi untuk menabur.

“Industri hulu migas bukan sekadar penggerak angka di atas kertas. Ia harus hadir, merasakan, dan bertanggung jawab atas tanah tempat ia berdiri. Pengolahan sulfur menjadi pupuk hayati ini adalah bukti nyata dari hulu ke hilir, segala sesuatu bisa dikelola dengan bijak. Apa yang dulu dianggap sisa, kini disuburkan kembali untuk menumbuhkan kehidupan. Ini bukan sekadar program, ini adalah kesadaran bahwa kemakmuran tak berarti jika tak dibagi bersama, pungkasnya.

Di ujung sore, saat matahari mulai turun perlahan ke ufuk barat, bayang-bayang tanaman jagung memanjang di tanah Lembah Matindok. Angin kembali berhembus, menggerakkan ribuan daun seolah bertepuk tangan. Di sini, di lembah yang tenang, sebuah kebenaran mulai tumbuh, kemajuan sejati bukanlah meninggalkan akar, melainkan menyuburkannya.

Bagi Beni dan puluhan petani di Desa Kayoa, Bioferdom bukan sekadar nama pupuk. Ia adalah janji. Bahwa tanah mereka tak akan mengecewakan lagi. Dengan kerja cerdas san keras akan mendapat balasan yang layak. Kisah ini menjadi penanda, di antara deru industri dan hijau puluhan hektar lahan pertanian, adalah titian harapan petani menuju masa depan yang cerah dan lestari.

(Penulis : Mulyadi T Bua)

error: Content is protected !!