banner 728x90

Nestapa Ibu Muda di Batui Selatan, Menolak “Jatah” Berujung Luka

Luwuk, Banggaiplus.com — Siang itu, di sebuah rumah sederhana di Desa Gori-Gori, Kecamatan Batui Selatan, suasana rumah tangga yang seharusnya menjadi tempat berlindung, tiba-tiba berubah menjadi tempat mencekam.

Hanya karena seorang istri berani berkata “tidak”, ketika diajak bermesraan suaminya, buntutnya luka menganga di tubuhnya, dan meninggalkan ketakutan mendalam di hatinya.

Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 13.30 WITA, seorang ibu muda berinisial N (28) tengah berhadapan dengan suaminya, S alias C (29). Di tengah beban kehidupan rumah tangga yang terasa berat, korban menolak permintaan suaminya untuk melakukan hubungan suami istri. Penolakan itu bukan tanpa alasan, tetapi persoalan nafkah yang tak kunjung terpenuhi membuat hatinya berat dan tak tenang.

Namun, penolakan itu justru memicu amarah yang tak terkendali. Pelaku terlebih dahulu melampiaskan kemarahannya dengan merusak sejumlah perabot rumah tangga. Kemudian, di luar dugaan, ia mengambil senjata tajam berupa parang dan mengayunkannya ke arah istrinya.

Satu ayunan mengenai bahu kiri korban. Darah seketika mengalir, dan rasa sakit fisik menyatu dengan luka yang jauh lebih dalam di hati. Setelah melakukan perbuatan keji itu, pelaku meninggalkan rumah dan melarikan diri, meninggalkan korban yang terluka sendirian.

Dalam keadaan berdarah namun tetap sadar, korban berusaha sekuat tenaga menghubungi keluarganya melalui telepon, meminta pertolongan. Tangisan dan permohonan itu akhirnya sampai, dan kabar peristiwa pun diteruskan ke kepolisian.

Personel Polsek Batui segera bergegas menuju lokasi. Sesampainya di sana, mereka mendapati korban masih dalam keadaan sadar, namun dengan luka di bahu yang membutuhkan penanganan medis segera. Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Sinorang untuk mendapatkan perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolsek Batui, IPTU Teguh Pria Adjisaka, membenarkan peristiwa tersebut.

“Setelah kejadian, pelaku meninggalkan lokasi, sedangkan korban menghubungi keluarganya melalui telepon untuk meminta bantuan,” ungkapnya.

Petugas juga melakukan pencarian keberadaan pelaku di sekitar lokasi, namun hingga saat ini yang bersangkutan belum ditemukan. Parang yang diduga digunakan dalam peristiwa tersebut masih berada dalam penguasaan pelaku.

Polisi terus melakukan upaya penanganan kasus ini. Sementara itu, kisah N menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi di mana saja, kepada siapa saja dan penolakan bukan alasan untuk menyakiti. (*/adibua)

error: Content is protected !!