Luwuk, Banggaiplus.com – Gendarang Musyawarah Dawrah (Musda) Partai Golkar ke IV Banggai Kepulauan mulai ditabuh. Helatan politik partai beringin itu diagendakan oleh DPD I Partai Golkar Sulteng, selama dua hari 21 sampai dengan 22 Desember 2025, untuk memilih dan menetapkan pengurus baru Partai Golkar masa bakti 2025-2030.
Untuk memantapkan serta memastikan suksesnya giat politik lima tahunan partai tersebut, panitia Musda yang diketuai Sartun Landengo, telah merampungkan seluruh kebutuhan dan persiapan teknisnya.
Selain telah mantapnya persiapan gelaran politik Golkar, yang tak kalah menarik untuk diulik adalah siapa saja figur yang akan menjadi kontestan di momentum itu. Sepuluh hari lagi sesuai jadwal Musda, namun tensi politik internal partai yang identik dengan warna kuning ini mulai terpapar rumor bakal calon ketua, hingga suhu politik mulai berada pada titik merah atau menghangat.
Meski baru sebatas rumor politik dan belum terkonfirmasi secara formal kepada pengurus Partai Golkar Bangkep, namun merujuk dari wacana publik yang berkembang di Banggai Kepulauan, baik melalui media sosial maupun pemerhati politik lokal, ada tiga nama yang digadang bakal menjadi kontestan dalam bursa pemilihan ketua partai yang sukses mendulang suara terbanyak di Pileg tahun kemarin.
Dua dari tiga nama yang mencuat “bertarung” untuk meraih pucuk pimpinan Partai Golkar Bangkep adalah kader murni partai, sementara figur satunya adalah politisi eksternal yang didorong masuk dalam arena Musda. Sosok itu adalah Serfi Kambey yang memiliki posisi strategis sebagai wakil bupati. Serfi Kambey masuk dalam bursa ketua, setelah sebelumnya dimomen politik Partai Golkar di Palu, sempat hadir dan mengenakan atribut Partai Golkar. Hal itulah yang kemudian dianggap sinyal kuat yang ditunjukkan Serfi untuk bergabung di Partai Golkar.
Setali dengan sinyalemen itu, Serfi Kambey dianggap memiliki power politik yang diprediksi dapat membuat wajah rivalnya murung karena kekalahan. Sementara figur berikutnya adalah politisi kuning yang kini duduk di kursi wakil ketua II dewan, Suhardin Sabalino. Suhardin Sabalino yang akrab disapa Haji Muda, tentu tak menginginkan dirinya menanggung malu karena dipecundangi oleh rival kuatnya Serfi Kambey. Diketahui jauh sebelumnya ia mulai pasang kuda-kuda dengan strategi lazim untuk meraih target politik: membangun komunikasi politik dengan pengurus partai di level kecamatan termasuk kepada kader partai yang punya hak memilih.
Figur berikutnya yang digadang untuk bertarung di gelanggang pemilihan ketua, walau hanya mengantongi jabatan ketua komisi dan sekretaris Partai Golkar, namun nama Irwanto T Bua (sapaan akrab Iwan Bua) menjadi buah bibir bagi pemerhati politik setempat. Sebab sosok Iwan Bua dianggap layak dan memiliki kemapuan politik untuk memberikan penetrasi dan perlawanan politik terhadap dua kandidat yang diakui memiliki power dan amunisi.
Meski sampai saat ini Iwan Bua belum memberikan pengakuan resmi, namun dari gestur politik belakangan ini, nampaknya ia punya niat untuk bertarung kelak. Iwan Bua yang dihubungi sejumlah wartawan untuk mengkonfirmasi kepastiannya maju sebagai kandidat ketua Golkar, belum memberikan pengakuan kesediaannya ikut bertarung. Namun mantan wartawan yang banting setir jadi politisi ini, secara politis mengatakan, siapapun punya ruang dan peluang yang sama untuk maju sebagai kandidat yang nantinya dipilih.
Kini pemerhati politik dan sejumlah publik di Bangkep, masing-masing telah memberikan argumentasi, prediksi bahkan berspekulasi siapa sosok yang bakal mengantongi legalitas formal sebagai pucuk pimpinan Partai Golkar di Banggai Kepulauan. Apakah Iwan Bua sanggup membuat dua kandidat tersebut menunduk karena kekalahan atau malah sebaliknya Iwan Bua yang harus balik kanan dan mengakui kemenangan salah seorang dari dua kandidat tersebut.
Kepastian siapa yang sukses di helatan politik itu, ditentukan pada hari dan momen yang telah diagendakan. “Tunggu Tanggal Mainnya”.***







