Bangkep, Banggaiplus.com – Angin senja menepuk manja dinding istana di atas air. Hilir mudik perahu nelayan merayap disela pilar-pilar istana pemukim komunitas Sama’ Bongganan di Kota Salakan Ibukota Banggai Kepulauan.
Perkampungan masyarakat Sama’ atau lebih di kenal dengan sebutan pemukiman Bajo Bongganan memiliki kehidupan sosial yang terpelihara secara turun temurun.
Pemukiman dengan bangunan rumah yang khas, seakan menjadi saksi terpeliharanya prinsip-prinsip sosial yang terbangun sejak para leluhur masyarakat Bajo melabuhkan biduk-biduk mereka di pesisir kepulauan Banggai.
Meski telah menanggalkan tradisi nomaden masyarakat yang dikenal dengan sebutan ‘suku laut’ ini, membangun istana diatas air dengan konsep yang tidak umum.
Apa yang menjadi pembeda dengan pemukiman lain. Itu dapat dilihat dari konsep perkampungan yang dibangun dengan kesetiakawanan sosial yang begitu tinggi, apa itu?. Lihat pada hunian satu dengan yang lainnya saling terhubung dengan koridor atau titian yang tak punya ujung dan pangkalnya.
Hal itu memiliki filosofi fundamental yang kian mengakar hingga ke dimensi modern, titian yang menghubungkan satu hunian dengan huniannya lainnya, sebagai wujud kebersamaan sosial yang tak pernah tergerus oleh perilaku kehidupan modern.
Pola hidup dengan konsep penyatuan dengan alam, menjadikan hamparan birunya laut, sebagai sumber kehidupan utama. Laut bagi masyarakat Bajo sebagai hadiah ilahi yang tak pernah kehabisan potensi.
Unik memang cara mereka memenuhi kebutuhan primer. Bermodalkan sampan tradisional, kail dan jala mengadu nasib melawan arus dan gelombang laut yang genit mengintai.
Arus, ombak dan gelombang menjadi simfoni merdu menjadi pelipur lara dalam memenuhi kebutuhan hayat mereka.
Namun keberadaannya mereka khususnya yang mendiami pesisir Desa Bongganan Banggai Kepulauan, ada satu hal yang miris dan sampai kini belum tersentuh oleh kebijakan anggaran dari pemerintah setempat. Persoalan sanitasi adalah satu aspek yang belum tuntas ditangani di wilayah itu.
Apakah ini sengaja dibiarkan, karena wilayah itu di nomor duakan ketimbang wilayah lain. Atau mungkin ada alasan lain yang membuat pemangku kebijakan, enggan memberikan stimulan pembiayaan soal itu. Ataukah perwakilan masyarakat Bajo yang berada di lembaga penyelenggara pemerintah tak sanggup bersuara.? Entahlah.
Meski demikian, warga di pemukiman Bajo setempat tak pernah mengeluh apalagi protes dengan kondisi itu. Terpenting laut yang diibaratkan seperti ibu dan bapak yang memberikan kehidupan abadi, tak dikuasai oleh penganut faham kapitalisme.
Bagi masyarakat Sama’ atau yang lebih di kenal dengan masyarakat Bajo punya prinsip seperti torehan pena penyair Buya Hamka.
“Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.”
Kisah masyarakat Bajo Bongganan adalah kisah tentang ketahanan, keuletan, dan kebersamaan. Mereka adalah contoh nyata bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam dan tetap teguh dalam menghadapi berbagai tantangan.
Semoga pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap permasalahan sanitasi di pemukiman mereka, sehingga masyarakat Bajo Bongganan dapat hidup dengan lebih sehat dan sejahtera dan emoga keindahan istana di atas air itu tetap terjaga.***
Penulis : adibua, Banggaiplus.com







