banner 728x90

Menyusuri Jejak CSR Dalam Kisah Keselarasan Antar Nelayan dan Industri Amonia

INVESTASI - Fasilitas pabrik, PT. Panca Amara Utama (PAU), menandai langkah awal sejarah perekonomian Banggai, sekaligus menasbihkan pabrik pemurnian gas alam cair menjadi amonia, pertama di Sulawesi.(Foto : Istimewa/adibua Art)

Luwuk – Matahari mulai meninggi, deburan ombak berbisik lembut pada pasir putih di pesisir Desa Uso. Ombak itu berbisik tentang sebuah harapan yang menggantung diatas langit Tano Babasalan (Banggai, Balantak, Saluan, dan Andio).

Pada tanggal dua agustus tahun dua ribu lima belas, Desa Uso Kecamatan Batui dilahan 192 hektar, dipilih menjadi titik pancang tiang sejarah industri di Kabupaten Banggai. Sekaligus menjadi pangkal bentangan pipa dan tempat berdirinya dua bejana raksasa. Fasiltas pabrik itu sebagai penanda PT. Panca Amara Utama (PAU), menasbihkan pabrik pemurnian gas alam cair menjadi amonia, pertama di Sulawesi.

Satu dasawarsa perjalanan PT. PAU, menuntun warga menapaki titian waktu, tuk menggapai harapan dan janji sosial dari sebuah investasi. Seiring perjalanan waktu, dipenghujung dasawarsa ini, rasa bangga dan kegelisahan atas kemajuan investasi, tidak serta merta menanggalkan kekhawatiran orang kebanyakan.

Kekhawatiran itu juga dirasakan oleh Ketua Kelompok Nelayan Kompanga Jaya, Ismail Maradesa atau biasa disapa Om Mail. Seorang nelayan asal Desa Uso, yang menggantungkan hidupnya dari keramahan laut.

Sosoknya menjadi tulang punggung keluarga. Saban hari ia membelah lautan dengan perahu ketinting bututnya. Bunyi mesinnya tak ubahnya suara besi beradu, pertanda tak layak pakai. Meski demikian, Om Mail tak patah semangat turun melaut. Setiap hari mengadu nasib melawan arus dan gelombang laut yang genit mengintai, hanya untuk mengepulkan asap dapurnya.

Kehadiran PT. PAU, awalnya menimbulkan kekhawatiran Om Mail dan nelayan lainnya. Apakah investasi raksasa itu akan merusak lautnya? Apakah mata pencahariannya akan terancam?. Dua pertanyaan itu, kerap mengusik benaknya.

Namun, kekhawatiran itu perlahan-lahan sirna. Seiring adanya edukasi dan bantuan alat tangkap melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT. PAU. Program itulah yang kemudian menjadi jawaban atas kekhawatiran Om Mail dan nelayan lain, disekitar kawasan operasional perusahaan yang memiliki kapasitas produksi sebesar 700.000 ton amonia per tahun.

Tahun dua ribu dua puluh empat, bantuan tak terduga datang dari PT. PAU. Perusahan tersebut, memberikan bantuan berupa mesin ketinting baru dan alat tangkap kepada kelompok nelayan Desa Uso termasuk Om Mail.

Bantuan itu bagaikan anugerah. Sebuah langkah awal yang mengubah hidup Om Mail dan nelayan setempat, Perahu barunya melaju lebih cepat, alat tangkapnya lebih efektif. Hasil tangkapannya pun meningkat.

Om Mail, tak henti-hentinya bersyukur. Ia merasakan betapa besar dampak positif dari kehadiran PT. PAU. Kini hasil melaut Om Mail, tak hanya sekedar mengepulkan asap dapur saja, namun pria paruh baya ini, bisa menabung untuk biaya kesehatan dan pendidikan anak-anaknya.

Ungkapan syukur Om Mail, diamini oleh Lead External Relation PT. PAU, Novari Mursita. Pria berperawakan tinggi ini, menarasikan pelbagai, kesuksesan program CSR perusahannya.

Pengakuan Novari Mursita, tak hanya sebatas bantuan alat tangkap nelayan seperti yang diterima Om Ismail dan kelompoknya. Namun ada enam poin misi program CSR.

Pertama, mendukung pendidikan dan mengembangkan pengetahuan. Dua, meningkatkan kesejahteraan melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Ketiga, mengedepankan kesehatan dan keselamatan. Empat, mencegah perubahan iklim dengan perlindungan lingkungan. Lima, membangun kolaborasi aktif. Kemudian yang terakhir, melakukan perbaikan terus menerus sehingga terciptanya dampak positif jangka panjang.

Dari enam instrumen program CSR tersebut, PT. PAU berhasil meraih penghargaan PROPER Emas tahun 2024. Namun di tahun sebelumnya meraih PROPER Hijau dari Pemerintah RI melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Penghargaan itu menunjukkan, PT. PAU sanggup bersaing dengan 187 perusahaan lain, yang memenuhi ambang batas PROPER Emas dan menjadi salah satu dari 85 perusahaan di Indonesia yang meraih predikat itu,” papar Novari Mursita dalam uraian materi pembekalan lomba karya tulis jurnalis di Kosta Cafe Luwuk, Kamis (24/7/2025).

Masih Novari Mursita, penghargaan bergengsi itu diberikan kepada perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Pencapaian ini semakin memperkuat citra PT. PAU sebagai perusahaan yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Penghargaan PROPER Emas ini juga menjadi bukti, pembangunan industri dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, menciptakan harmonisasi antara kepentingan warga dan perusahaan.

Desa Uso kini berubah. Kehidupan masyarakat lebih sejahtera. Nelayan-nelayan seperti Om Mail dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dengan lebih mudah. Kehadiran PT. PAU telah membawa perubahan relatif signifikan, tanpa harus merampas hak-hak ekonomi masyarakat dan mengorbankan kelestarian lingkungan.

Kisah nelayan Uso dan PT. PAU menjadi sebuah bukti nyata, pembangunan industri dapat bersinergi dan menjadi harapan pasti bagi masyarakat. Apabila keduanya menjalankan dengan tanggung jawab sosial dan kepedulian lingkungan yang tinggi.

Tak berlebihan, industrialisasi yang digerakkan PT. PAU dapat menstimulasi sinergi yang harmonis dan kerjasama yang baik, hingga membawa perubahan positif bagi kehidupan masyarakat di kolong langit negeri Babasalan.***

Penulis : Mulyadi T Bua, Banggaiplus.com

error: Content is protected !!