Bangkep, Banggaiplus.com – Mentari pagi menyinari pertigaan SDN Pembina Salakan, menyapa Om Baadi yang sudah duduk tegak di balik lapak sederhana miliknya. Udara pagi masih sejuk, bercampur aroma tanah basah dari jejak hujan semalam. Usianya 57 tahun, namun tangannya masih cekatan menjahit sol sepatu yang usang. Mendekati 10 tahun, lapak kecil ini menjadi saksi bisu perjuangannya menghidupi keluarga.
Om Baadi bertutur kepada Banggaiplud.com Kamis (17/7/2025), ketika menyambangi lapaknya. Jika dia bukanlah seorang mudah putus asa karna kerasnya kehidupan. Hanya dengan dibekali jarum, benang, palu, dan berbagai jenis lem, dengan tangan cekatannya sanggup menampik gundah gulana yang kerap mengintip hidupnya dari balik tirai hiruk pikuknya persaingan ekonomi di tanah kelahirannya, Salakan.
Setiap jahitan pria yang sudah beruban ini, bukan sekadar menambal lubang atau menjahit, tetapi juga menambal dan menjahit harapan. Harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Hari ini, seperti hari-hari biasanya, Om Baadi memulai pekerjaannya sejak pukul 07.30 pagi. Jarum dan benang berdansa di antara jemarinya yang terampil. Kulihat, matanya begitu teliti memeriksa setiap bagian sepatu yang rusak. Tidak ada keluhan, hanya kesabaran dan ketekunan yang terpancar dari raut wajahnya yang ramah. Ia bekerja hingga waktu salat zuhur tiba. Setelah salat dan makan siang, ia kembali melanjutkan pekerjaannya hingga sore menjelang.
Penghasilannya memang tidak menentu. Kadang, jika pelanggan ramai, ia bisa meraup hingga Rp100.000 atau lebih. Namun, ada kalanya ia hanya mendapatkan Rp40.000 sampai Rp60.000. Yang menarik, ia mematok harga jasa yang tetap, yaitu Rp20.000 per pasang sepatu atau sandal, tanpa mempertimbangkan tingkat kesulitan atau bahan yang digunakan. Kedermawanan dan kepeduliannya pada sesama begitu terasa.
Kisah Om Baadi bukan sekadar kisah seorang penjahit sepatu biasa. Ia adalah representasi dari semangat juang dan keikhlasan dalam bekerja. Ini adalah bukti kebahagiaan tidak selalu diukur dari banyaknya harta benda, tetapi dari kepuasan batin dan rasa syukur atas apa yang telah dimiliki.
Figur Om Baadi, adalah inspirasi bagi kita semua untuk selalu bekerja keras, berjuang, dan bersyukur atas segala karunia Tuhan. Dan di setiap jahitannya, terpatri sebuah doa, sebuah harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Di sore hari, ketika matahari mulai terbenam, Om Baadi menutup lapaknya. Ia pulang dengan langkah ringan, hati penuh syukur. Ia tahu, besok pagi, ia akan kembali ke lapaknya, menjahit sepatu-sepatu usang, dan menambal harapan-harapan baru. Ia adalah Om Baadi, penjahit sepatu yang sederhana, namun luar biasa.
“Saya selalu bersyukur atas segala karunia dan nikmat yang diberikan oleh Allah, dan harapannya adalah untuk selalu diberikan kesehatan dan mensyukuri rezeki yang diterima,” tutur Om Baadi menutup kisahnya. (adibua)
