Banyuwangi – Pengoperasian dua sumur baru di Lapangan Sejadi, Kalimantan Timur, menjadi satu di antara sederetan langkah strategis yang patut diapresiasi dalam upaya mengejar target produksi minyak sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
Melalui pengelolaan yang dijalankan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) di bawah pengawasan ketat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), sumur SJ-6 dan SJ-4RD1 diproyeksikan dan telah sanggup menyumbang tambahan produksi hingga 1.865 barel minyak per hari (BOPD).
Potensi tambahan ini datang di momen yang sangat tepat. Sektor migas Indonesia saat ini memang dihadapkan pada tantangan klasik namun serius. Laju penurunan produksi alami (decline rate) yang terjadi di banyak lapangan tua.
Tanpa penemuan sumur baru maupun optimalisasi lapangan yang sudah ada, target produksi nasional akan sulit tercapai, dan ketahanan pasokan energi dalam negeri pun terancam.
Kepala Departemen Komunikasi SKK Migas, Arief Hermawan, mengatakan hal ini dalam pemaparannya pada Media Gathering Pertamina Subholding Upstream Regional Indonesia Timur di Banyuwangi, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, keberhasilan persiapan pengoperasian kedua sumur ini bukan sekadar angka tambahan produksi semata, melainkan bukti nyata keberhasilan upaya menjaga ketersediaan energi nasional.
“Langkah ini sangat penting untuk mendukung target produksi dan ketahanan energi nasional. Keberhasilan ini memberikan dampak besar dalam menjaga pasokan minyak dalam negeri,” ujar Arief.
Ada tiga alasan utama mengapa pencapaian ini memiliki nilai strategis tinggi. Pertama, kedua sumur ini menjadi penopang nyata target produksi di tengah tantangan penurunan hasil dari lapangan tua. Kedua, upaya ini membuktikan bahwa lapangan migas yang sudah beroperasi lama masih bisa dimaksimalkan potensinya melalui pengeboran sumur pengembangan baru, sehingga usia produksinya bisa diperpanjang. Ketiga, keberhasilan ini sekaligus menunjukkan efektivitas penerapan inovasi teknologi dan efisiensi biaya dalam setiap tahapan operasi.
Lebih dari itu, keberhasilan ini juga menjadi bukti bahwa sinergi yang terjalin antara SKK Migas, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta seluruh pemangku kepentingan berjalan dengan kokoh. Kolaborasi inilah yang menjadi fondasi agar upaya menjaga keberlanjutan produksi migas nasional bisa terus berjalan beriringan dengan kebutuhan energi masyarakat dan pembangunan bangsa.
Pada akhirnya, langkah di Lapangan Sejadi menjadi pelecut kesusksesan di tengah keterbatasan dan tantangan. Upaya terus-menerus dalam mengoptimalkan potensi yang ada adalah kunci agar Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri, tetapi juga mempertahankan posisinya sebagai negara penghasil energi. (mulyadi t bua)
