Kisah Lembah Matindok Ketika “Limbah” Menyuburkan Harapan Petani

Luwuk, Banggaiplus.com — Di Lembah Matindok, pagi bukan sekadar pergantian malam ke siang. Saat matahari perlahan naik menembus kabut tipis yang menyelimuti lembah, angin berhembus lembut menyapu hamparan hijau ribuan batang tanaman jagung. Mereka berdiri tegak, daun-daunnya bergoyang seolah menyambut cahaya yang membawa janji kehidupan baru.

Pemandangan itu terhampar luas di Desa Kayoa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Bagi siapa pun yang hanya lewat sekilas, ini mungkin hanya ladang jagung biasa. Namun bagi mereka yang lahir dan besar di sini, hamparan hijau ini jauh lebih dari sekadar tanaman. Ia adalah bukti hidup, apa yang dulu dianggap tidak berharga, dibuang dan dilupakan kini telah tumbuh menjadi harapan yang kokoh, harapan yang tak mudah dipatahkan oleh musim yang sulit.

Berpuluh-puluh tahun lamanya, tanah di lembah itu dirawat dengan keringat yang tak pernah terhitung jumlahnya. Para petani bangun sebelum fajar menyingsing, pulang ketika cahaya matahari sudah tak lagi cukup untuk melihat pucuk daun. Mereka menanam, menyiram dan berdoa agar musim berbaik hati.

Namun hasil tak pernah benar-benar sejalan dengan kerja keras. Pupuk kimia yang dibutuhkan tanah harganya terus melambung, semakin jauh dari jangkauan kantong petani kecil. Musim panen tetap datang membawa bulir jagung, tetapi ia tak lagi membawa kelegaan yang dulu dirasakan orang tua mereka.

Satu hektar lahan yang dirawat sepenuh hati, hanya mampu memberi 2 hingga 3 ton jagung kering. Setelah dikurangi biaya pupuk, upah tenaga kerja, dan kebutuhan hidup sehari-hari, yang tersisa nyaris tak cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga setahun ke depan. Lahan yang seharusnya menjadi penopang hidup, perlahan terasa semakin berat untuk dipertahankan.

Banyak yang mulai putus asa. Sebagian pemuda memilih meninggalkan ladang dan pergi ke kota mencari nasib lain.

“Untuk apa bertahan jika tanah tak lagi memberi?” begitu bisik hati mereka. Ladang yang tak dijaga perlahan mulai tertutup semak belukar. Harapan perlahan layu, sama seperti tanaman yang kekeringan menunggu hujan yang tak kunjung datang. 

Namun takdir ternyata menyimpan hal lain yang sedang dirangkai di balik layar. Tepat di kawasan yang sama, tempat ladang-ladang itu terbentang, berdiri fasilitas pengolahan gas bumi milik PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF), bagian dari Zona 13 Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina.

Selama ini, dalam proses pemurnian gas bumi tersebut, dihasilkan sebuah produk sampingan yang dikenal sebagai biosulfur slurry. Bagi banyak orang, ia hanyalah limbah, sesuatu yang tidak diinginkan, yang harus disimpan jauh dari pemukiman, sesuatu yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis sama sekali.

Tetapi tim Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina EP DMF melihat hal yang berbeda. Mereka tidak hanya melihat apa yang terlihat di permukaan, melainkan bertanya. Bagaimana jika apa yang kita sebut “sisa” ini justru memiliki kandungan yang dibutuhkan oleh tanah kita sendiri.?

Pertanyaan sederhana itu menjadi awal dari perjalanan panjang. Dilakukanlah pengkajian demi pengkajian, uji coba di balik layar yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kesalahan dan kegagalan tentu terjadi. Namun keyakinan bahwa solusi harus ada, membuat mereka terus berjalan. Hingga akhirnya, lahirlah sebuah inovasi pupuk organik yang diberi nama Bioferdom. Pupuk yang bahan bakunya diambil dari apa yang dulu disebut limbah, kini dikembalikan ke tanah sebagai sumber kehidupan yang baru.

Program ini tidak berjalan dengan cara yang biasa dilakukan. Pertamina EP DMF tidak sekadar datang, membagikan karung pupuk, lalu pergi. Mereka membuka sebuah ruang belajar yang disebut Sekolah Lapang. Di sana, petani diajak memahami tanah mereka lebih dalam dari sebelumnya.

Langkah demi langkah dipelajari. Kapan waktu terbaik menabur benih, bagaimana mengatur jarak tanam agar setiap batang mendapat cukup cahaya dan udara, kapan tanaman membutuhkan perawatan khusus, hingga cara memanen yang tepat agar kualitas jagung tetap terjaga dan tidak banyak yang terbuang.

Ini adalah prinsip lama yang bijaksana: Bukan memberi ikan, tetapi mengajarkan cara memancing. Bahkan lebih dari itu, mereka diajarkan cara membuat pancingnya sendiri, dan menjaga agar sungai tempat mereka memancing tetap jernih dan kaya ikan.

Senyum yang Kembali Tumbuh di Wajah Petani.

Di ladang percontohan, berdiri seorang lelaki paruh baya yang matanya kini memandang ke depan dengan tenang. Itulah Beni Irawan, Ketua Kelompok Tani Mosaangu. Di wajahnya, kerutan yang dulu terukir dalam oleh beban kekhawatiran masa depan, kini terlihat lebih lembut. Berganti dengan sebuah senyum. Senyum yang tulus, senyum yang lahir dari sebuah kepastian, bukan sekadar harapan buta.

Saat ditemui sejumlah wartawan di ladangnya pada Jumat, 2 Oktober 2026, Beni bercerita di sela jeda kunjungan rombongan media. Suaranya kadang bergetar, seolah menahan rasa syukur yang begitu dalam, seolah ia masih tak percaya bahwa hal ini benar-benar terjadi.

“Dulu, setiap musim tanam itu rasanya seperti memasuki taruhan besar yang kami takutkan kalah,” kenangnya perlahan.

Setiap musim tiba, kecemasan selalu datang lebih dulu. Uang untuk membeli pupuk harus dipinjam, entah itu dari tetangga, kerabat, atau rentetan utang yang terus menumpuk. Dengan napas tertahan, mereka menanam, berharap panen nanti cukup untuk mengembalikan semua yang dipinjam.

“Tapi seringkali, hasilnya tak cukup. Kami lelah, tanah pun terasa semakin lelah,” ujarnya lirih.

Tanah yang terus dipaksa memberi tanpa diberi kembali yang layak, perlahan menjadi keras dan pasrah. Dan di situlah, di antara tanah yang retak dan harapan yang menipis, Beni serta puluhan petani lainnya mulai merasa, mungkin ladang ini tak lagi bisa menampung masa depan anak-anak mereka.

Namun cerita itu kini telah berubah. Setelah dibimbing, dilatih, dan didampingi dengan sabar musim demi musim, serta diperkenankan menggunakan pupuk Bioferdom yang ramah lingkungan dan jauh lebih terjangkau, tanah itu mulai bernapas kembali. Hasilnya tak berupa janji manis, tetapi bulir jagung yang lebih penuh, batang yang lebih tegak, dan angka yang tak lagi mengecewakan.

Satu hektar lahan yang dulu hanya mampu menghasilkan 2 hingga 3 ton jagung kering, kini mampu melonjak hingga 6 ton. Itu bukan sekadar angka di atas kertas, itu adalah makanan tambahan di meja keluarga, biaya sekolah anak yang lebih terjamin, dan tabungan untuk hari esok yang tak lagi menakutkan.

Keuntungan yang dulu berkisar sekitar Rp9 juta per hektar, kini dapat mencapai Rp25 juta. Sementara biaya produksi turun sekitar 40 persen, karena mereka tidak lagi harus tergantung sepenuhnya pada pupuk kimia yang harganya terus melambung di luar jangkauan.

Tanah yang dulu keras dan tak bernyawa, kini terasa gembur di jemari. Dan Beni, serta puluhan petani lainnya, akhirnya bernapas lebih lega. Mereka tidak lagi takut menanam, karena kini mereka tahu apa yang mereka tanam akan tumbuh dengan baik dan hasilnya akan menjadi milik mereka sepenuhnya.

Perubahan ini bukan terjadi dalam semalam. Ia lahir dari pertemuan, percobaan, kegagalan, kesabaran, dan kepercayaan yang tumbuh perlahan antara Pertamina EP DMF dan masyarakat setempat. Saat ini, sebanyak 26 petani yang mengelola lahan seluas 33 hektar telah merasakan dampak nyata dari program ini.

Namun dampaknya jauh melampaui angka-angka tersebut. Para petani yang telah dibimbing kini berdiri sebagai pelita bagi tetangganya. Beni dan kawan-kawan tak pelit berbagi pengetahuan. Mereka menunjukkan cara menabur yang benar, menjelaskan cara merawat tanah, hingga cara membuat pupuk sendiri dari bahan limbah pemurnian gas alam..

Harapan itu pun menular dari ladang ke ladang, dari rumah ke rumah. Orang yang dulu ragu dan menganggap ini tak akan berhasil, kini mulai ikut mencoba. Mereka melihat perubahan itu sendiri, di ladang sebelah, di ladang kerabat, di ladang Beni.

Di Lembah Matindok, yang tumbuh bukan hanya tanaman jagung yang lebih tinggi dan lebih hijau. Yang tumbuh juga adalah kepercayaan diri, kemandirian, dan keyakinan bahwa mereka, para petani
adalah tuan di tanah mereka sendiri. Dan senyum di wajah Beni Irawan, itu adalah bukti bahwa perubahan yang paling nyata, selalu dimulai dari hati yang berubah lebih dulu.

Bioferdom Kunci Kemandirian Petani

Di balik keberhasilan ladang-ladang hijau di Lembah Matindok, ada satu gagasan besar yang menjadi jangkar dari seluruh program ini, kemajuan yang sejati tidak boleh meninggalkan siapa pun di belakang. Inilah keyakinan yang terus dipegang teguh oleh Muhammad Syair, Senior Officer Relations Pertamina EP Donggi Matindok Field, saat ia berbicara dihadapan 26 petani binaan.

“Ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya terus naik, perlahan-lahan mencekik petani. Musim demi musim, semakin dalam mereka terbenam dalam utang, semakin jauh jarak antara menanam dan bertahan hidup,” tutur Syair.

Ia melihat bagaimana kenaikan harga pupuk kimia bukan sekadar angka di pasaran namun itu adalah beban yang semakin berat di pundak setiap keluarga petani di lembah ini. Ketika biaya produksi terus melonjak sementara harga jual hasil panen tidak pernah bergerak secepat itu, petani terjebak dalam lingkaran yang tampaknya tak berujung.

“Kami ingin memutus rantai itu. Bukan dengan memberi bantuan sesaat yang akan habis dalam satu musim, tetapi dengan sesuatu yang bisa mereka miliki, pahami, dan kembangkan sendiri,” lanjutnya.

Bioferdom lahir dari sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam, bagaimana jika apa yang kita buang justru adalah apa yang tanah kita rindukan.?

“Apa yang dulu dibuang, kini diubah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi. Limbah yang diabaikan, kini menjadi sumber kehidupan,” ujar Syair.

Ia menambahkan, disetiap proses produksi, ada bahan yang sering kali tidak terpakai. Namun bagi alam, tidak sesuatu terbuang yang ada hanyalah bahan yang belum menemukan tempatnya yang tepat. Sulfur dulunya dipandang sekadar residu, melalui penelitian, uji coba, dan ketekunan, akhirnya menemukan tempatnya kembali ke tanah. Menyuburkan tanaman, dan menghidupkan ladang-ladang yang mulai kehilangan harapan .

Salah satu dampak yang paling terasa adalah perubahan biaya yang harus ditanggung petani. Jika pupuk komersial bisa mencapai Rp300 ribu per karung, pupuk berbasis biosulfur ini jauh lebih ringan di kantong. Namun bagi Syair, keterjangkauan harga hanyalah salah satu bagian dari cerita yang lebih besar.

“Murah saja belum cukup. Terpenting adalah petani memahami mengapa mereka menggunakannya, kapan waktunya, dan bagaimana tanah meresponsnya. Tanpa pengetahuan itu, pupuk hanyalah serpihan kristal tak berarti,” tegasnya.

Karena itu, tim tidak berhenti hanya pada penyediaan pupuk. Mereka menyusun panduan lengkap, mengatur jadwal tanam, mengajarkan pola perawatan yang tepat. Mulai dari cara menyiapkan benih, mengatur jarak antar tanaman, mengenali tanda kekurangan hara, hingga kapan waktu terbaik memanen. Semua ini disusun dalam Sekolah Lapang yang berjalan berkelanjutan .

“Kami memastikan, ilmu ini tidak akan hilang begitu saja setelah kami pergi. Ia akan terus tumbuh dan berkembang di tangan para petani itu sendiri. Bahkan mereka yang diajarkan hari ini akan menjadi guru bagi sesama petani di lembah Matindok,” jelas Syair.

Inilah yang membuat program ini berbeda. Petani tidak hanya belajar cara menggunakan pupuk saja tetapi mereka memahami tanah mereka secara utuh. Mereka mengenali siklus alam di ladang sendiri, memahami keseimbangan yang dulu terabaikan, dan pada akhirnya, mereka menjadi penguasa atas tanah mereka sendiri.

“Bioferdom hadir agar petani semakin mandiri mampu mengolah, memanfaatkan, dan mengembangkan kekayaan dari lingkungannya sendiri,” ujar Syair dengan senyum tulus.

Bagi masyarakat di Lembah Matindok, kemandirian itu terasa nyata. Biaya produksi turun 40 persen, hasil panen naik dua kali lipat, dan yang terpenting mereka tidak lagi menengadahkan tangan setiap musim tanam tiba. Mereka memiliki pengetahuan, metode, dan keyakinan bahwa tanah mereka mampu memberi kehidupan.

Limbah Jadi Jembatan yang Menghubungkan Dua Dunia.

Selama ini, dunia industri dan dunia pertanian sering dipandang sebagai dua dunia yang berjalan di jalur terpisah bahkan kadang dianggap berlawanan. Satu sisi ada deru mesin dan pipa-pipa besar, di sisi lain ada ladang, cangkul, dan keringat petani yang menanti musim. Keduanya berdiri di tanah yang sama, namun seolah terpisah oleh jarak yang jauh.

Namun menurut Fuad Rafif Prasetyo, Community Development Officer (CDO) PEP DMF, kehadiran Bioferdom telah mengubah pandangan itu secara perlahan namun pasti.

“Bioferdom pada dasarnya lebih dari sekadar produk. Ia adalah jembatan yang menghubungkan dua dunia yang sering kali terasa berjauhan, dunia industri dan dunia pertanian,” beber Fuad mantap.

Masih Fuad, pupuk itu hanyalah salah satu wujud nyata. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi di baliknya. Bagaimana sesuatu yang lahir dari proses industri justru kembali menyuburkan kehidupan di ladang-ladang petani. Bukan sebagai bentuk belas kasihan, melainkan sebagai bagian dari satu siklus alam yang utuh.

“Ini tentang mengubah cara pandang. Ternyata alam memberi segalanya, asal kita pandai merawatnya,” ujarnya.

Selama ini kita terbiasa berpikir bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang baru, kita harus mengambil lebih banyak dari alam. Namun Bioferdom mengajarkan hal yang berbeda: bahwa alam sebenarnya sangat hemat, ia tidak menciptakan sampah, hanya bahan yang belum menemukan tempatnya. Apa yang dihasilkan di satu sisi, dapat menjadi sumber kehidupan di sisi lainnya, selama kita cukup bijaksana untuk melihatnya.

Prinsip ini menjadi jiwa dari seluruh program. Petani tidak diajarkan untuk selalu menunggu bantuan datang dari luar. Sebaliknya, mereka dilatih untuk melihat sekeliling dengan mata yang baru mata yang mampu melihat potensi di mana orang lain hanya melihat sisa.

“Petani belajar melihat bahwa apa yang ada di sekitar mereka bukan sampah, tetapi potensi yang menunggu diolah. Limbah bukan akhir dari sesuatu, melainkan awal dari sesuatu yang baru,” ucapnya.

Perubahan terbesar bukanlah terlihat dari meningkatnya angka hasil panen semata. Perubahan yang sesungguhnya adalah ketika petani mulai menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengelola lingkungannya sendiri, bahwa solusi tidak selalu harus datang dari luar, dan bahwa kemakmuran sejati tumbuh dari rasa syukur serta kepedulian terhadap apa yang ada di sekitar kita.

Ketika pola pikir itu berubah, maka yang tumbuh bukan hanya tanaman yang lebih tinggi dan buah yang lebih lebat, tetapi juga masyarakat yang lebih percaya diri, lebih mandiri, dan lebih menghargai alam tempat mereka berpijak. Dan itulah, menurut Fuad, keberhasilan terbesar dari seluruh perjalanan ini.

Apresiasi Bupati Banggai atas Inovasi Bioferdom Pertamina.

Di tengah deru pembangunan yang terus bergerak maju di Kabupaten Banggai, ada satu hal yang sering menjadi perhatian besar. Apa itu ?. Pentingnya sebuah kesadaran bahwa kehadiran industri tidak boleh sekadar mengambil manfaat dari tanah tempat ia berdiri, tetapi juga harus menabur kembali kehidupan bagi mereka yang tinggal di atasnya.

Salah satu wujud nyata dari kesadaran itu terlihat jelas di Desa Kayoa, Kecamatan Batui. Di kawasan yang berdekatan dengan fasilitas pengolahan gas bumi PT Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF), kini terbentang hamparan ladang jagung yang hijau dan subur. Di balik pemandangan sederhana itu, tersimpan sebuah cerita panjang tentang inovasi, kemitraan, dan kebijaksanaan yang patut dijadikan teladan.

Pemerintah Kabupaten Banggai menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap program pemanfaatan limbah gas menjadi pupuk organik yang dikenal dengan nama Bioferdom.

Bupati Banggai, H. Amirudin Tamoreka, tidak menyembunyikan kekagumannya atas langkah yang diambil oleh Pertamina EP DMF. Baginya, inisiatif ini jauh melampaui sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan. Ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah industri seharusnya hadir dan berperan di tengah masyarakat.

“Pengelolaan sumber daya alam tidak boleh hanya mengambil keuntungannya saja, tetapi juga harus bertanggung jawab atas dampaknya. Mengubah sulfur yang dulu dianggap sisa menjadi pupuk hayati yang menumbuhkan kehidupan, itu adalah kebijaksanaan yang patut diapresiasi. Segala sesuatu bisa dikelola dengan bijak, dari hulu ke hilir. Kemakmuran tidak berarti jika hanya dirasakan oleh sebagian orang, sementara yang lain tertinggal di belakang,” kata Bupati.

Kalimat-kalimat sederhana namun sarat makna ini menggambarkan visi besar yang ingin diwujudkan oleh Pemerintah Kabupaten Banggai dengan menggandeng perusahaan memalui program CSR, sebab pembangunan harus inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.

Apa yang dilakukan oleh Pertamina EP DMF melalui inovasi Bioferdom pada dasarnya telah mengubah cara pandang terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai. Produk sampingan dari proses pemurnian gas bumi yang dikenal sebagai biosulfur slurry, yang dulunya mungkin hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, kini diolah sedemikian rupa sehingga berubah menjadi pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah pertanian.

Bupati Amirudin melihat hal ini bukan sekadar keberhasilan teknis semata, melainkan sebuah perubahan pola pikir yang revolusioner. Ketika kita mampu melihat nilai di balik apa yang dulu dianggap tidak berguna, sebenarnya kita sedang membangun sebuah peradaban yang lebih bijaksana terhadap alam.

“Ini adalah bukti bahwa di tangan yang tepat, apa yang disebut ‘sisa’ dapat berubah menjadi anugerah. Alam tidak pernah benar-benar menghasilkan sampah. Yang ada hanyalah bahan yang belum menemukan tempatnya yang tepat. Tugas kita adalah menemukan tempat itu,” kata Tamoreka.

Ia menambahkan, dampak nyata dari kehadiran pupuk Bioferdom dan pendampingan yang diberikan melalui program Sekolah Lapang telah dirasakan langsung oleh puluhan petani di Desa Kayoa dan sekitarnya. Peningkatan hasil panen yang mencapai dua kali lipat, penurunan biaya produksi hingga 40 persen, dan pemulihan kesuburan tanah yang lama terancam. Namun dengan lahirnya bioferdom menjadi bukti bahwa solusi yang tepat sasaran dapat mengubah nasib masyarakat dalam waktu yang relatif singkat.

Dalam penegasan bupati, keberhasilan tersebut menunjukkan, ketika perusahaan hadir dengan hati yang melayani, masyarakat bukan sekadar objek penerima bantuan, melainkan mitra yang tumbuh bersama.

“Kami tidak ingin masyarakat di sekitar kawasan pembangunan menjadi penonton dari kemajuan yang terjadi di halaman rumah mereka sendiri. Mereka harus menjadi bagian dari kemajuan itu, dan ikut menikmati hasilnya. Pertamina EP DMF telah menunjukkan bahwa hal itu mungkin dilakukan,” paparnya.

Kemitraan yang Membangun Kemandirian ini mendapat apresiasi besar dari Pemerintah Kabupaten Banggai adalah pendekatan yang digunakan dalam program ini tidak sekadar membagikan bantuan, tetapi membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan melalui Sekolah Lapang.

Secara lebih luas, Bupati Amirudin juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Kabupaten Banggai kaya akan sumber daya alam, dan kekayaan ini harus dikelola dengan penuh tanggung jawab agar tetap bermanfaat bagi generasi mendatang.

“Kami tidak ingin membangun dengan cara yang merusak warisan anak cucu kita. Inovasi seperti Bioferdom membuktikan bahwa industri dan lingkungan hidup tidak harus berlawanan arah. Keduanya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan. Apa yang diambil dari bumi, dikembalikan lagi ke bumi dalam bentuk yang bermanfaat. Itulah siklus yang seharusnya terjadi,” ujarnya dengan pandangan jauh ke depan.

 Di akhir akhir statemen, Bupati H. Amirudin Tamoreka berharap apa yang telah dibangun di Lembah Matindok dapat menjadi teladan bagi pihak lain yang beroperasi di Kabupaten Banggai. Kehadiran industri dapat meninggalkan jejak yang indah, jejak berupa tanah yang makin subur, masyarakat yang makin makmur, mandiri, dan harapan yang makin kokoh di dada setiap keluarga petani.

“Jika setiap pihak yang berinvestasi di Banggai memiliki kepedulian dan inovasi seperti ini, maka cita-cita kita mewujudkan masyarakat Banggai yang sejahtera, mandiri, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar impian. Itu adalah masa depan yang sedang kita bangun bersama,” pungkas Bupati.

Matahari mulai turun perlahan ke ufuk barat, menyinari hamparan ladang jagung di Desa Kayoa dengan cahaya keemasan yang lembut. Angin berhembus pelan, menggerakkan ribuan pucuk daun jagung seolah bertepuk tangan. Di antara deru mesin fasilitas gas yang terdengar samar di kejauhan dan keheningan ladang yang damai, ada harmoni yang baru saja terjalin.

Bagi Beni dan puluhan petani di Lembah Matindok, Bioferdom bukan sekadar nama pupuk di karung. Ia adalah janji. Janji bahwa tanah mereka tidak akan mengecewakan lagi. Bahwa kerja keras mereka akan mendapat balasan yang layak. Bahwa menjadi petani di kampung halaman sendiri adalah pilihan yang membanggakan, bukan beban yang harus ditinggalkan.

Kisah ini bukan tentang keajaiban yang terjadi dalam sekejap. Ini kisah tentang melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat potensi di balik apa yang terlihat seperti sampah. Ini kisah tentang kesabaran, tentang kemitraan yang tulus, dan tentang keyakinan bahwa ketika industri dan masyarakat berjalan beriringan, keduanya akan tumbuh bersama.

Dan di sinilah, di lembah yang tenang ini, kita belajar satu hal penting kemajuan sejati bukanlah meninggalkan akar tempat kita berdiri. Kemajuan sejati adalah menyuburkan akar itu, sehingga semua orang yang berdiri di atasnya dapat tumbuh tinggi bersama-sama, menembus kabut, menyambut masa depan yang lebih cerah.***

(Penulis: Mulyadi T Bua)

error: Content is protected !!
Exit mobile version