Luwuk, Banggaiplus.com – Gelar akademik boleh mentereng. Profesor, doktor, master, dan berbagai gelar kehormatan berjejer panjang di depan atau belakang nama. Pendidikan boleh membumbung tinggi hingga puncak hierarki akademis. Namun, ketika syak wasangka, kedengkian, serta kebencian personal sudah menyelimuti dada, ketajaman intelektual acap kali tumpul.
Segala hal yang lahir dari pihak yang tidak sejalan atau tidak sesuai selera politik, ideologi, maupun selera pribadi langsung dijangkakan negatif. Rasionalitas berganti menjadi prasangka; objektivitas tergerus oleh emosi.
Bukankah seharusnya moralitas kaum intelektual adalah tanggung jawab etis, kejujuran akademik, dan keberanian moral yang melekat pada setiap individu berpendidikan tinggi atau cendekiawan untuk menjadi penjaga kebenaran, keadilan, dan kompas moral bagi masyarakat?
Fenomena runtuhnya moralitas intelektual bukan hal baru, melainkan penyakit lama yang telah diperingatkan secara mendalam, baik dalam kearifan tradisi Nusantara maupun pilar ajaran Islam.
Dalam pandangan luhur budaya Nusantara, manusia ideal tidak semata-mata diukur dari tingginya ilmu pengetahuan (kawruh), melainkan dari keseimbangan antara daya pikir (cipta) dan kehalusan nurani (rasa).
Prinsip Ngilmu Iku Kelakone Kanthi Laku dalam falsafah Jawa misalnya, mengingatkan bahwa ilmu tanpa keheningan jiwa hanya akan melahirkan kesombongan yang mendominasi. Pujangga R.Ngabehi Ranggawarsita dalam karya-karyanya sering mengingatkan pentingnya eling lan waspada (ingat dan waspada). Seseorang yang tinggi ilmunya namun dikuasai kebencian dianggap sedang kehilangan eling-nya—ia sedang terperangkap dalam watak adigang, adigung, adiguna (mengandalkan kekuasaan, kebesaran, dan kepintaran tanpa disertai kerendahan hati).
Konsep lainnya adalah Rasa Pangrasa. Pepeling atau petuah ini bertujuan menjaga kerukunan. Masyarakat Nusantara menempatkan ngukur awak (menakar diri sendiri sebelum menilai orang lain) sebagai pijakan bertindak. Kebencian yang membutakan penilaian obyektif disebut sebagai bentuk kemunduran rasa. Seseorang yang terdidik tetapi bertindak atas keheningan rasa yang tumpul kerap diibaratkan seperti “ilmu tanpa budi”—berbahaya bagi keharmonisan sosial (rasa tentrem masyarakat).
Dalam konteks ajaran Islam, agama menuntun umatnya agar tidak bersikap su’udzon dan wajib mengutamakan keadilan. Islam menempatkan kebersihan hati di atas tumpukan pengetahuan lisan maupun gelar formal. Pengetahuan yang tidak membersihkan jiwa justru berisiko menjadi hujjah yang memberatkan di akhirat.
Islam juga melarang berbuat unfair akibat kebencian. Al-Qur’an secara eksplisit melarang kaum beriman berlaku tidak adil hanya karena rasa benci kepada suatu kelompok atau individu.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini menekankan bahwa tolok ukur ketakwaan dan ketajaman akal sehat adalah keberanian untuk tetap objektif, jujur, dan adil, meskipun terhadap pihak yang tidak kita sukai.
Kebencian intelektual sering berawal dari akumulasi su’udzon yang dipelihara. Rasulullah SAW bersabda:
“Jauhilah olehmu prasangka (buruk), karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Janganlah kalian mencari-cari kesalahan, mengintai-intai kesalahan, janganlah saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika prasangka menggantikan verifikasi (tabayyun), maka ijazah dan deretan gelar akademik tidak lagi berdaya menjaga pemiliknya dari fitnah dan ketidakadilan berpikir.
Pendidikan tinggi adalah pencapaian akal, tetapi kelapangan dada dan kebersihan hati adalah pencapaian jiwa. Kebencian hanya akan menyempitkan sudut pandang, mengubah ilmuwan menjadi pendendam, dan mengubah cendekiawan menjadi pembenak stigma.
Mari menjadikan akhir pekan ini sebagai momentum untuk muhasabah (introspeksi diri): menata kembali niat, membersihkan prasangka buruk, serta mengembalikan fungsi keilmuan sebagai penyuluh kebenaran dan perajut keadilan—bukan sekadar alat pelampiasan kebencian. Selamat berakhir pekan. Tabe. ***
Penulis: Temu Sutrisno (Sekretaris PWI Sulteng)
