Luwuk, Banggaiplus.com — Program Tanggung Jawab Sosial (CSR) PT Pertamina EP Donggi Motindok Field (DMF) terus berjalan berkelanjutan. Fokus utamanya adalah pemberdayaan ekonomi mandiri bagi kelompok tani dan peternak, dengan mengembangkan Sekolah Lapang Bioferdom untuk pemanfaatan produk samping menjadi pupuk organik ramah lingkungan, serta pengembangan peternakan ayam petelur di Desa Kayoa, Kecamatan Batui.
Community Development Officer (CDO) PEP DMF, Fuad Rafif Prasetyo, menyampaikan hal kepada sejumlah wartawan dalam kunjungan lapangan, Jumat (2/10/2026). Menurutnya, pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan Kelompok Ternak Ayam merupakan salah satu solusi nyata untuk meningkatkan taraf ekonomi warga Desa Kayoa.
Salah satu bukti keberhasilannya adalah Kelompok Peternak Lestari yang beranggotakan enam orang. Kelompok ini kini telah sukses mengembangkan ribuan ekor ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Kecamatan Batui.
Manajemen Pertamina EP tidak hanya memberikan pembinaan teknis, tetapi juga menyertakan modal usaha berupa bibit, sarana, hingga prasarana. Diharapkan, Kelompok Peternak Lestari menjadi kelompok percontohan sekaligus memberikan edukasi pengembangan usaha peternakan bagi warga sekitar.
“Harapannya, usaha percontohan ini memberi dampak positif bagi warga untuk meningkatkan perekonomian,” ujar Fuad.
Sementara itu, Ketua Kelompok Ternak Ayam Lestari, Jhoni Uslan, menyampaikan apresiasi kepada manajemen Pertamina EP atas fasilitas dan sokongan moril yang diberikan.
“Bantuan berupa bimbingan teknis dan penyertaan modal menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan usaha peternakan ayam petelur,” ungkapnya.
Kesuksesan yang diraih kini memicu semangat para anggota untuk memperluas skala usaha. Dukungan moril maupun pendampingan berkelanjutan dari perusahaan pun diharapkan dapat mewujudkan harapan tersebut.
Selain peternakan ayam petelur, Pertamina EP DMF juga memprogramkan Sekolah Lapang melalui inovasi pupuk Bioferdom. Kelompok tani binaan yang terlibat adalah Kelompok Tani Rani Mosaangu, dengan luas lahan penerapan yang telah mencapai sekitar 33 hektar di wilayah Desa Kayoa.
Relation PT Pertamina EP DMF, Syair, menjelaskan, Bioferdom dikembangkan untuk memperbaiki kualitas tanah, salah satunya melalui kandungan belerang atau sulfur yang dibutuhkan tanaman.
“Kami telah membina 26 petani melalui program ini. Mereka tidak hanya mengelola lahan sendiri, tetapi juga mengedukasi petani lain tentang pentingnya penggunaan pupuk Bioferdom guna meningkatkan produktivitas pertanian,” jelas Syair.
Selain itu, program ini juga menekan biaya produksi petani. Jika pupuk komersial dapat mencapai Rp300 ribu per sak, pupuk berbasis sulfur hasil pengembangan PEP DMF jauh lebih efisien.
Pihaknya juga terus mendorong penerapan prosedur operasional baku, mulai dari teknik penanaman, pengaturan jarak tanam, hingga perawatan tanaman.(adibua)
